Orangtua bagaikan akar pohon

Post at Thu, 14.March.2013 08:25:56 AM .
Hit: 3179 . Comment:
 
Orangtua adalah “cetakan” bagi anak, bagaimana orangtua memperlakukan orangtua mereka sendiri, anak-anak juga akan mempelajarinya secara alami. Seperti cerita orang zaman dulu: “Sekarang ayah menggunakan seutas tali untuk menarik kakek ke sini, kelak saya juga akan menggunakan tali ini untuk menarik ayah ke sini.” Ini adalah hukum karma yang tidak akan meleset sedikit pun.
 
Ada seorang petani buah yang masih memiliki seorang ibu, istri dan anak-anak, ia dengan susah payah berhasil menanam sebidang kebun buah yang luas, sepasang suami istri pergi ke kebun untuk bekerja setiap hari dan membiarkan ibu di rumah untuk merawat anak-anak, sang nenek juga sangat mencintai cucu-cucunya. Tapi begitu pulang dari kebun, menantu perempuan langsung meminta anak-anak kembali padanya dan melarang anak-anak dekat dengan nenek mereka, bahkan kadang-kadang bersikap kasar terhadap mertua perempuan karena masalah anak-anak.
 
Sang suami merasa sangat sedih melihat hal itu, ia berkata kepada sang istri: “Kamu seharusnya bersikap lebih baik terhadap ibu!” sang istri menjawab: “Orang yang sudah tua adalah tidak berguna lagi, sedangkan anak-anak seperti buah, biar seberapa susah pun kita bekerja, semua adalah demi anak-anak, tentu saja kita harus mencintai mereka!” Mendengarkan perkataan itu, sang suami merasa tak berdaya.
 
Suatu hari, sang suami pergi ke kebun dan memotong semua akar-akar dari sebatang pohon buah. Daun dan buah dari pohon itu pun berjatuhan, begitu sang istri melihat kondisi ini, ia pun berteriak cemas! Sang suami mengatakan: “Sudahkah kamu lihat? Akar sudah putus! Saya yang memotong semua akar-akarnya.” Sang istri berkata dengan marah: “Kamu orang bodoh! Bagaimana kamu sampai memotong akar pohon ini?”
 
Sang suami berkata: “Benar sekali! Prinsip yang sama, manusia juga harus menjaga ‘akar’ darimana kita berasal! Saya dilahirkan oleh orangtua saya, ibu sudah membesarkan saya dengan susah payah, jadi saya seharusnya berbakti kepadanya. Jika kamu tidak dapat membantu saya dalam berbakti kepada orangtua, itu bagaikan memotong akar kehidupan kita, bagaimana nantinya bisa menghasilkan buah yang baik?” Sang istri segera tersadarkan dari kesalahannya selama ini, sejak saat itu ia pun bersikap sangat berbakti kepada mertua perempuannya.
 
Orangtua bagaikan akar pohon, kita ini bagaikan batang pohon, sedangkan buah di atas pohon adalah anak-anak kita. Jika akar sudah putus, maka pohon akan mengering dan buah akan berguguran, jadi berbakti pada orangtua adalah akar dari kehidupan sebagai manusia, jika kita tidak menghargai akar kehidupan, bagaimana nantinya bisa menghasilkan buah yang baik?

source : mailing list
 


 

Comments for "Orangtua bagaikan akar pohon"