Riunix's Blog
Hidup ibarat benih tumbuhan
Alkisah, ada seorang penabur benih yang pergi membawa sekarung benih.
Sepanjang perjalanannya, sebagian benih jatuh di pinggir jalan, setelah
beberapa waktu, datanglah seekor burung dan memakannya.
Sebagian lagi jatuh di tanah yang berbatu, yang tidak banyak tanahnya,
dan benih itu pun segera tumbuh, tetapi tidak dapat bertahan lama
karena tanahnya tipis, maka akarnya pendek, segeralah ia menjadi kering
dan layu.
Sebagian lagi jatuh di semak berduri, lalu seiring dengan pertumbuhan
benih tersebut, ia terhimpit oleh semak belukar, sehingga ia tidak
berbuah.
Dan sebagian lainnya jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan subur
dan banyak buahnya, dan menghasilkan banyak sekali panenan.
Benih hidup kita, Hidup manusia pun bisa dianalogikan seperti benih di
atas.
Seperti benih pertama, beberapa orang hidup tanpa berhasil
mengaktualisasi potensi diri mereka atau bahkan tidak berhasil
menemukannya. Mereka sama sekali tidak menghasilkan apa-apa dalam
hidupnya, bahkan sampai mereka meninggal.
Beberapa seperti benih kedua, yang mampu berkembang dengan cepat dan
pesat, namun sesungguhnya akarnya(hidupnya) sangat rapuh dan kering.
Orang-orang sepertinya adalah orang yang tidak henti-hentinya bekerja
secara terus menerus, tanpa mempedulikan kualitas kesehatan fisik,
mental, ataupun sosial. Mereka memiliki kualitas hidup yang kurang baik,
mungkin sakit-sakitan, memiliki tingkat kebahagiaan yang rendah, ataupun
terdapat ketidakharmonisan di keluarganya. Secara sekilas, mereka
terlihat memiliki segalanya, tetapi sesungguhnya kehidupan mereka
kering.
Beberapa seperti benih ketiga, walaupun mereka punya akar kuat dan mampu
tumbuh tinggi, tetapi mereka tidak berbuah. Orang-orang seperti ini
hanya hidup untuk dirinya sendiri, dan sesungguhnya mereka tidak
memberikan 'nilai' yang berarti bagi orang-orang di sekitar mereka.
Mereka hanya hidup untuk ambisi pribadi sendiri, tanpa memperdulikan
orang lain.
Mereka sama sekali tidak menghasilkan 'buah' yang bisa diberikan untuk
orang lain.
Dan tentunya, sedikit orang seperti benih keempat, di mana mereka
berhasil mempunyai tanah yang subur dengan mineral yang cukup, di mana
akhirnya potensi dari benih tersebut bisa sampai maksimal dan juga
menghasilkan buah bagi orang lain.
Merekalah yang bisa menjaga keseimbangan di antara seluruh aspek hidup
mereka, karena selain berbuah dengan baik, juga memiliki akar yang kuat.
Benih yang manakah kita? Manakah benih yang paling menggambarkan hidup
kita? Apakah hidup kita seperti benih yang pertama, yang hidup dengan
sia-sia tanpa menghasilkan apa pun?Ataukah seperti benih kedua, yang
dibutakan oleh harta semata tanpa mempedulikan kebahagiaan dan kesehatan
kita?
Dan akhirnya kita akan merasa hidup kita sia-sia dan kering?
Ataukah seperti benih ketiga, yang hanya egois memperhatikan diri
sendiri, tetapi tidak memberikan kontribusi(nilai) apa pun bagi sesama
kita?
Berbeda dengan benih, kita mempunyai kekuatan dan daya untuk menentukan
hendak berada di tanah yang manakah kita berada. Jika pun kita telah
berada di tanah yang salah, kita masih mempunyai kemampuan untuk
berpindah.
Tidak seperti benih yang hanya bisa pasrah, kita masih mempunyai 'kaki',
pikiran, dan hati untuk meninggalkan tanah yang lama dan menuju tanah
subur impian benih tersebut. Jika kita merasa belum berada di tanah
subur kita, maka jangan buang waktu lagi, carilah tanah tersebut.
Tanamkanlah akar dengan kuat, tumbuhkanlah batang pohon kita dengan
tinggi, dan yang paling penting: hasilkanlah buah yang manis untuk orang
lain. Karena hanya dengan demikianlah, benih (orang) tersebut telah
mengeluarkan potensi maksimal dalam dirinya.
Benih yang berhasil menanamkan akar yang kuat, dan telah menumbuhkan
batang yang menjulang tinggi, tapi tidak menghasilkan buah apapun, sama
saja dengan tidak berguna. Ia akan ditebang dan dibuang, dan akan
digantikan dengan pohon yang lain..
Sumber:Unknown
Sepanjang perjalanannya, sebagian benih jatuh di pinggir jalan, setelah
beberapa waktu, datanglah seekor burung dan memakannya.
Sebagian lagi jatuh di tanah yang berbatu, yang tidak banyak tanahnya,
dan benih itu pun segera tumbuh, tetapi tidak dapat bertahan lama
karena tanahnya tipis, maka akarnya pendek, segeralah ia menjadi kering
dan layu.
Sebagian lagi jatuh di semak berduri, lalu seiring dengan pertumbuhan
benih tersebut, ia terhimpit oleh semak belukar, sehingga ia tidak
berbuah.
Dan sebagian lainnya jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan subur
dan banyak buahnya, dan menghasilkan banyak sekali panenan.
Benih hidup kita, Hidup manusia pun bisa dianalogikan seperti benih di
atas.
Seperti benih pertama, beberapa orang hidup tanpa berhasil
mengaktualisasi potensi diri mereka atau bahkan tidak berhasil
menemukannya. Mereka sama sekali tidak menghasilkan apa-apa dalam
hidupnya, bahkan sampai mereka meninggal.
Beberapa seperti benih kedua, yang mampu berkembang dengan cepat dan
pesat, namun sesungguhnya akarnya(hidupnya) sangat rapuh dan kering.
Orang-orang sepertinya adalah orang yang tidak henti-hentinya bekerja
secara terus menerus, tanpa mempedulikan kualitas kesehatan fisik,
mental, ataupun sosial. Mereka memiliki kualitas hidup yang kurang baik,
mungkin sakit-sakitan, memiliki tingkat kebahagiaan yang rendah, ataupun
terdapat ketidakharmonisan di keluarganya. Secara sekilas, mereka
terlihat memiliki segalanya, tetapi sesungguhnya kehidupan mereka
kering.
Beberapa seperti benih ketiga, walaupun mereka punya akar kuat dan mampu
tumbuh tinggi, tetapi mereka tidak berbuah. Orang-orang seperti ini
hanya hidup untuk dirinya sendiri, dan sesungguhnya mereka tidak
memberikan 'nilai' yang berarti bagi orang-orang di sekitar mereka.
Mereka hanya hidup untuk ambisi pribadi sendiri, tanpa memperdulikan
orang lain.
Mereka sama sekali tidak menghasilkan 'buah' yang bisa diberikan untuk
orang lain.
Dan tentunya, sedikit orang seperti benih keempat, di mana mereka
berhasil mempunyai tanah yang subur dengan mineral yang cukup, di mana
akhirnya potensi dari benih tersebut bisa sampai maksimal dan juga
menghasilkan buah bagi orang lain.
Merekalah yang bisa menjaga keseimbangan di antara seluruh aspek hidup
mereka, karena selain berbuah dengan baik, juga memiliki akar yang kuat.
Benih yang manakah kita? Manakah benih yang paling menggambarkan hidup
kita? Apakah hidup kita seperti benih yang pertama, yang hidup dengan
sia-sia tanpa menghasilkan apa pun?Ataukah seperti benih kedua, yang
dibutakan oleh harta semata tanpa mempedulikan kebahagiaan dan kesehatan
kita?
Dan akhirnya kita akan merasa hidup kita sia-sia dan kering?
Ataukah seperti benih ketiga, yang hanya egois memperhatikan diri
sendiri, tetapi tidak memberikan kontribusi(nilai) apa pun bagi sesama
kita?
Berbeda dengan benih, kita mempunyai kekuatan dan daya untuk menentukan
hendak berada di tanah yang manakah kita berada. Jika pun kita telah
berada di tanah yang salah, kita masih mempunyai kemampuan untuk
berpindah.
Tidak seperti benih yang hanya bisa pasrah, kita masih mempunyai 'kaki',
pikiran, dan hati untuk meninggalkan tanah yang lama dan menuju tanah
subur impian benih tersebut. Jika kita merasa belum berada di tanah
subur kita, maka jangan buang waktu lagi, carilah tanah tersebut.
Tanamkanlah akar dengan kuat, tumbuhkanlah batang pohon kita dengan
tinggi, dan yang paling penting: hasilkanlah buah yang manis untuk orang
lain. Karena hanya dengan demikianlah, benih (orang) tersebut telah
mengeluarkan potensi maksimal dalam dirinya.
Benih yang berhasil menanamkan akar yang kuat, dan telah menumbuhkan
batang yang menjulang tinggi, tapi tidak menghasilkan buah apapun, sama
saja dengan tidak berguna. Ia akan ditebang dan dibuang, dan akan
digantikan dengan pohon yang lain..
Sumber:Unknown
